RSS

Kekerasan Dalam Berpacaran.

17 Nov

Sumber gambar : wsdk.org

Cerita ini sebenarnya hanyalah sebuah cerita fiktif yang mungkin bisa kita semua jumpai di lingkungan sekitar kita tentang Kekerasan dalam berpacaran. Ya, memang mungkin terasa aneh ketika kita menyebut kata “Kekerasan Dalam Pacaran (KDP)” karena yang sering kita dengar ataupun kita lihat di media adalah “Kekerasan dalam Rumah Tangga (KDRT)”          .

Untuk hal-hal yang menyangkut tentang KDRT memang sudah ada hukum yang mengurusi akan hal tersebut, namun apa kabarnya dengan KDP (Kekerasan Dalam Pacaran) ? Apakah sudah ada hukum tertulis yang mengurusi hal itu ? Jawabannya adalah Belum. Namun perbuatannya dapat dikategorikan dikategorikan sebagai tindak penganiayaan terhadap orang lain dan dapat di hukum sesuai dengan tingkat perbuatannya mulai dari hukuman ringan hingga hukum mati.

Baiklah, disini saya coba menceritakan sebuah kisah tentang kekerasan dalam berpacaran yang dialami oleh seorang mahasiswi sebut saja namanya Melati, dia adalah mahasiswi salah satu universitas di Jakarta yang hidup berkecukupan tetapi selalu merasa kesepian karena keluarganya tak pernah ada di rumah hanya untuk sekedar mendengarkan curahan hatinya ketika sedang senang ataupun sedang dirundung kesedihan.

Ketika dia menginjak semester 4, Melati mulai menjalin hubungan berpacaran dengan seorang pria bernama jaka. Awalnya mereka sangat rukun dan harmonis, tetapi lama kelamaan sifat Jaka mulai memperlihatkan kejanggalan yang sebelum-sebelumnya tidak pernah dirasakan oleh melati. Jaka menjadi sangat keras dan pemarah bahkan tak jarang menyakiti Melati, menampar, hingga memukul. Namun setelah puas meluapkan kemarahannya itu Jaka langsung berubah drastis dengan menyadari tindakannya tersebut dan meminta maaf serta berjanji tidak akan mengulanginya lagi. Dan ternyata sifat pemarahnya itu ia dapatkan karena sering melihat ayahnya melakukan tindak kekerasan terhadap ibunya. Awalnya Melati bisa mengerti hal itu tetapi Jaka terus saja melakukan hal yang sama kepada Melati, bahkan Melati tidak diperbolehkan berkomunikasi dengan teman-teman dan sahabat terdekatnya. Kian hari, tindak kekerasan yang dilakukan Jaka semakin tak terkendali, bahkan tidak jarang Melati diancam akan dibunuh oleh Jaka saat ingin mengakhiri hubungannya dengan Jaka. Namun setelah berusaha sekuat tenaga akhirnya Melati melaporkan tindakan Jaka yang sudah tidak wajar kepada pihak berwajib dan berhasil mengakhiri hubungannya dengan Jaka.

Dari kisah di atas, Banyak orang yang peduli tentang kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga (Domestic Violence), namun masih sedikit yang peduli pada kekerasan yang terjadi berpacaran (Kekerasan Dalam Pacaran/KDP) atau Dating Violence). Banyak yang beranggapan bahwa dalam berpacaran tidaklah mungkin terjadi kekerasan, karena pada umumnya masa berpacaran adalah masa yang penuh dengan hal-hal yang indah, di mana setiap hari diwarnai oleh manisnya tingkah laku dan kata-kata yang dilakukan dan diucapkan sang pacar.

Kekerasan dalam Pacaran (KDP) adalah perilakuatau tindakan seseorang dapat disebut sebagai tindak kekerasan dalam percintaan atau pacaran apabila salah satu pihak merasa terpaksa, tersinggung dan disakiti dengan apa yang telah dilakukan oleh pasangannya pada hubungan pacaran. Suatu tindakan dikatakan kekerasan apabila tindakan tersebut sampai melukai seseorang baik secara fisik maupun psikologis, bila yang melukai adalah pacar maka ini bisa digolongkan tindak kekerasan dalam pacaran (KDP).

Sebenarnya kekerasan ini tidak hanya dialami oleh perempuan atau remaja putri saja, remaja putra pun ada yang mengalami kekerasan yang dilakukan oleh pacarnya. Tetapi perempuan lebih banyak menjadi korban dibandingkan laki-laki karena pada dasarnya kekerasan ini terjadi karena adanya ketimpangan kekuasaan antara laki-laki dan perempuan yang dianut oleh masyarakat luas. Ketidakadilan dalam hal jender selama ini telah terpatri dalam kehidupan sehari-hari, bahwa seorang perempuan biasa dianggap sebagai makhluk yang lemah, penurut, pasif, mengutamakan kepentingan laki-laki dan lain sebagainya, sehingga dirasa “pantas” menerima perlakuan yang tidak wajar atau semena-mena.

 
Leave a comment

Posted by on November 17, 2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: