RSS

Resensi Film “Kekerasan dalam Berpacaran”

30 Nov
Setelah disuguhkan tayangan menarik tentang kekerasan dalam pacaran tadi, saya akan mencoba menganalisis film tadi dengan sudut pandang saya sebagai mahasiswa. Sedikit me review untuk menganalisa film bukan untuk meringkas film tersebut. Pemeran utama di mainkan oleh Melati (Korban) yang mempunyai kekasih bernama Jaka (Pelaku) yang merupakan adik dari Rena (Sahabat Melati – Red), dan bimo yang berperan sebagai sahabat melati. Bentuk kekerasan yang dilakukan oleh jaka bukan hanya sekedar kekerasan fisik saja, tapi juga psikis dan kekerasan ekonomi. Pada awalnya perjalanan cinta mereka berjalan normal, tapi seiring berjalannya waktu, hubungannya menjadi tidak sehat karena setiap bertemu selalu ada kekerasan emosional yang dilakukan jaka terhadap melati
Banyak orang yang peduli tentang kekerasan yang terjadi di dalam rumah tangga (Domestic Violence), namun masih sedikit yang peduli pada kekerasan yang terjadi berpacaran (Kekerasan Dalam Pacaran/KDP) atau Dating Violence). Banyak yang beranggapan bahwa dalam berpacaran tidaklah mungkin terjadi kekerasan, karena pada umumnya masa berpacaran adalah masa yang penuh dengan hal-hal yang indah dan setiap hari diwarnai oleh manisnya tingkah laku dan kata-kata yang dilakukan dan diucapkan sang pacar.
Kekerasan dalam pacaran adalah perilaku atau tindak kekerasan dalam percintaan atau pacaran apabila salah satu pihak merasa terpaksa, tersinggung dan disakiti dengan apa yang telah dilakukan oleh pasangannya pada hubungan pacaran. Suatu tindakan dikatakan kekerasan apabila tindakan tersebut sampai melukai seseorang baik secara fisik maupun psikologis, bila yang melukai adalah pacar maka ini bisa digolongkan tindak kekerasan dalam pacaran (KDP).

Pada film ini ada beberapa analisis seperti pada tokoh yang berperan, diantaranya :
1. Pada tokoh Jaka, Bukan berarti kekerasan yang dilakukan terhadap kekasihnya terjadi ketika ia sering melihat sang Ayah melakukan tindak kekerasan terhadap ibu kandungnya. Alasan yang sering ia lontarkan ketika meminta maaf setelah melakukan kekerasan tersebut.
Kemudian pada diri Jaka harus memiliki tameng yang kuat berupa Pengetahuan Agama yang dianutnya, agar kekerasan yang ia lakukan dapat dikurangi sedikit demi sedikit.
Perlunya Jaka memiliki teman untuk berkeluh kesah(sharing), agar dapat mengurangi beban fikiran yang ia rasakan selama hidupnya.
2. Pada tokoh Indah, kesabaran memang perlu dalam menjalani hubungan berpacaran. Akan tetapi, berani mengungkapkan kata tidak akan membantu ia tidak menjadi seorang yang akan diperlakukan seenaknya oleh pacarnya.
Kemudian dia harus mempertimbangkan peringatan oleh orang tuanya bahwa jaka memang tidak baik buat dirinya. Bukannya orang tua otoriter dalam permintaan izin dia bahwa boleh atau tidaknya meneruskan hubungan.

JURUS MENGHINDARI KEKERASAN
Jika kekerasan dalam pacaran terjadi pada kita atau sahabat, kita bisa kok menghentikannya. Semua bisa dilakukan asal ada kemauan. Kita berhak menolak apa yang kita rasa tidak nyaman. Caranya:
1. Berani Berkata “Tidak!”
Semua hal dapat terjadi jika kita membiarkannya. Putuskan apa yang kita inginkan dan tidak kita inginkan. Komunikasikan perasaan, pikiran, dan keyakinan kita pada pacar. Jika ada perasaan tidak nyaman, komunikasikan secara terbuka dan jujur. Beri penjelasan kenapa Anda menolaknya. Ingat, kalau pacar memang cinta tentu dia akan melindungi orang yang dicintainya dari kerusakan. Katakan ”tidak” sebelum terjadi yang tidak dinginkan.
2. Hargai Tubuh Kita
Dengan keyakinan bahwa tubuh kita berharga, jangan biarkan apa pun yang tidak kita kehendaki terjadi padanya. Ketika tubuh mulai dieksploitasi untuk pertama kali, maka akan ada yang kedua, ketiga dan mungkin tidak akan berhenti. Tunjukkan pada pacar bahwa kita sangat menghargai tubuh kita. Kalau dia benar-benar mencintai Anda, dia pun akan belajar memahaminya.
3. Tekankan Makna Pacaran
Jangan takut untuk mendefinisikan makna pacaran dan bagaimana hubungan akan dibina ketika pacar mulai meminta sesuatu yang tidak Anda kehendaki. Pacaran merupakan keputusan sadar dengan penuh pertimbangan dan itikad baik antara dua pihak. Pacaran melibatkan aspek emosi, keyakinan, sosial dan budaya. Ada unsur pembelajaran, penghargaan, penghormatan, dan komunikasi dalam pacaran.
4. Menjadi diri sendiri
Jangan mulai membiarkan kekerasan menimpa kita hanya karena ingin menyenangkan pacar. Belajarlah menjadi diri sendiri. Selama sikap dan perbuatan kita positif, pertahankan. Peran kita lebih banyak dibentuk oleh pola pengasuhan yang dipengaruhi budaya, untuk mengubahnya kita juga harus mulai dengan proses pembelajaran baru. Jadi bersiaplah untuk belajar.
5. Cari dukungan
Karena kekerasan dalam pacaran juga dipengaruhi oleh aspek budaya, untuk mengubahnya juga harus dilakukan bersama-sama. Cari dukungan, kalau perlu buat komunitas antikekerasan.Ungkapkan dan kampanyekan pikiran kita, cari teman yang sependapat.

 
Leave a comment

Posted by on November 30, 2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: